Search

Rabu, 31 Oktober 2012

CERPEN


Permata Hatiku
Orangtuaku bukanlah termasuk keluarga berada. Namun keluarga yang serba pas-pasan. Hanya pas untuk makan dan pas untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, tidak lebih dari itu. Ibuku seorang pekerja keras, siang dan malam selalu bekerja dan bekerja karena ibuku satu-satunya tulang punggung keluarga. Pukul empat pagi harus sudah bangun untuk membuatkan sarapan anak-anak setelah itu harus mengayuh sepedanya untuk berjualan di pasar. Sepulang dari pasar ibuku harus pergi ke kebun untuk menanam dan merawat tanaman obat-obatan, malam harinya harus mengirat bambu untuk dibuat anyaman sampai larut tengah malam itulah rutinitas pekerjaan ibuku.
Pagi itu sudah menujukkan pukul lima terdengan suara ibu memanggilku,
“Tik ........ Tutik bangun sudah pagi.“
“Ya, Bu.......” jawabku. Aku lihat ibu sudah memasak di dapur. Aku langsung ke kamar mandi terus sholat subuh, selesai sholat aku membantu ibu di dapur.
“Tik..... ibu berangkat ke pasar.”
“Ya, Bu.”
“Nanti kalau berangkat sekolah sarapan dulu, uang sakunya ibu taruh dimeja. Jangan lupa kunci pintu,” baik Bu.
Aku berangkat ke sekolah setelah selesai mengerjakan tugasku di rumah. Karena harus bantu-bantu ibu dulu sehingga setiap aku berangkat sekolah, aku sudah ditinggal oleh teman-temanku. Aku berangkat sendirian, sambil jalan setengah berlari agar aku tidak terlambat di sekolah. Bahkan aku sering dipanggil ke kantor karena sering terlambat bayar uang sekolah. Maklumlah karena ibuku hanya jualan di pasar sedangkkan saudaraku banyak.
“Lho...... Bu.“ Sudah pulang dari pasar?
“Ya, Tik! Alhamdulillah pasarnya ramai, dagangan ibu laris. Uangnya bisa untuk bayar SPP-mu.”
“Makasih, Bu...”
“Kakak-kakakmu mana, Tik?”
“ itu ada didalam, baru datang dari sekolah.”
“Ya, sudah.” Kakakmu Totok suruh cepat cari rumput, sudah sore nanti keburu hujan. Kakakmu Dodik suruh membersihkan kandang kerbau. Ibu mau ke kebun.
“kamu cuci baju ibu ya Tik!” baik, Bu.
Begitulah keluargaku, ibuku selalu memberi tanggungjawab pekerjaan kepada saudara-saudaraku tanpa kecuali.
Ayahku sudah lama meninggal. Dulu ayahku sebagai sekretaris desa, ayahku sangat mendambakan anak perempuan walaupun putranya sudah enam. Suatu saat ibuku mengandung lagi. Dan setelah lahir ternyata bayinya perempuan. Ayahku sangat bahagia karena harapannya terkabulkan. Akulah satu-satunya anak perempuan dari tujuh bersaudara. Kata ibuku, “Ayahku sangat sayang dan perhatian padaku, sampai-sampai baju-bajuku ayahku yang mencucinya. Kebahagiaan ayah untuk menimang anak perempuan tidak lama karena ayahku keburu dipanggil oleh yang Kuasa. Jadilah aku anak yatim yang tidak pernah lagi mendapatkan kasih sayang ayah.
Sekarang aku duduk di bangku kelas tujuh. Setiap pagi kukayuh sepedaku ke sekolah yang jaraknya kira-kira lima kilometer. Aku tidak malu dengan teman-temanku walau temanku banyak yang berangkat ke sekolah naik angkot, bahkan banyak yang diantaroleh ayahnya. Seandainya aku masih punya ayah mungkin keadaanku akan berbeda. Ibuku tidak harus sendirian bekerja keras siang dan malam untuk menghidupi keluarga.
Sepulang sekolah aku selalu membantu ibuku di rumah. Jika hari libur aku membantu berjualan di pasar. Sore harinya aku harus mengayuh sepedaku yang berjarak kira-kira empat kilo untuk membeli barang-barang yang bisa dijual ibu di pasar. Malam harinya aku harus membantu ibu mengupas singkong dari hasil kebunnya. Untuk dibuat tape yang bisa dijual di pasar. Aku sungguh tidak tega melihat ibu bekerja sendirian.
“siang-siang begini ibu mau kemana?” tanyaku.
“mau ke rumah bulekmu.”
“ada apa ibu pergi kerumah bulek?”
“kakakmu butuh uang untuk bayar kuliah. Sebentar lagi katanya ujian skripsi, tapi ibu belum punya uang. Makanya ibu mau pinjam uang ke bulekmu. Siapa tau buluk bisa bantu.”
“ibu pergi ke rumah bulek dengan siapa?”
“ibu minta antar kakakmu Totok.”
“Kamu jaga rumah ya Tik.” Kata kak Totok.
“Ya Kak, hati-hati bonceng ibu,”
“Ya Kakak berangkat.”
            Wah, aku lupa kalau tadi belum makan. Perutku terasa keroncongan. Makan ah......! aku ambil piring dirak, lalu ambil nasi, selesai makan kucuci sekalian piringnya, terus kutaruh dirak piring. Tidak sengaja tanganku menyenggol gelas. Gelasnya jatu. Pyarrrr....! bunyi gelas tadi pecah berkeping-keping, aku sangat terkejut. Menurut cerita orang-orang kalau ada benda yang jatuh dalam rumah, itu suatu firasat bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk. Aku jadi gemetaran, perasaanku tidak enak, mudah-mudahan tidak ada kejadian apa-apa.
“Sudah sore ibu kok belum datang ya?”
“Tik, Tutik.....!” ada suara orang memanggilku, siapa ya.....”
“Tik, buka pintunya, Ya... sebentar.
Kulihat banyak orang didepan rumahku, ada apa ya? Aku jadi penasaran. Jangan-jangan......
Aku lihat ada orang dibopong di depan rumah.
“masa Allah ada apa ini?”
 “Ibu, jawab kak Totok.
“Ibu kenapa?”
“ibu jatuh dari sepeda, dan sekarang tidak bisa jalan.”
Kalau begitu cepat kak bawa kedalam, ya dan cepat panggilkan tukang pijat.
            Sudah satu minggu ibu terbaring dikamar, ibu tidak bisa bangun karena badannya tidak bisa digerakkan. Aku sangat terpukul ternyata ibu mengalami kelumpuhan akibat terjatuh dari sepeda beberapa waktu yang lalu, aku  dan kakak-kakakku berusaha keras agara ibuku bisa sembuh kembali karena ibuku satu-satunya tulang punggung keluarga. Allhamdulillah dalam waktu satu bulan ibuku berangsur-angsur sembuh. Ibuku ddapat berjalan kembali. Allah Maha Pengasih, terima kasih Ya Allah.
Aku harus pandai membagi waktu untuk sekolah, belajar, dan membantu orang tua. Waktu belajarku sangatlah terbatas. Aku hanya dapat belajar pada malam hari, itupun keadaanku sudah sangat capek. Namun ibuku wanita yang sangat tabah, ulet, dan bijak. Biarpun saudaraku banyak, ibu punya prinsip pendidikan anaklah nomor satu. Semua anaknya harus sekolah dan harus berpendidikan. Ibu tidak bisa mewariskan harta, hanya bisa mewariskan ilmu kepada putra-putrinya demi untuk masa depan. Kakak-kakakku sekarang sudah menjadi sarjana. Akupun juga sudah jadi sarjana. Aku bangga dengan ibuku.

Karya : SUTAMI S.Pd